PEKANBARU – Matajagad.com – 12 Maret 2026
Isu serius terkait pembinaan olahraga disabilitas di Provinsi Riau kembali menjadi sorotan.Mulai dari persoalan bonus atlet yang belum tuntas, audit penggunaan anggaran, hingga kabar belum dibayarkannya gaji pengurus dan atlet, memunculkan pertanyaan besar mengenai tata kelola olahraga disabilitas di daerah ini.
Redaksi Matajagad.com telah melayangkan permohonan klarifikasi resmi kepada Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Riau terkait sejumlah persoalan yang kini berkembang di ruang publik.(9/3/2026)
Sorotan paling tajam mengarah pada bonus atlet Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) yang disebut-sebut hingga kini belum sepenuhnya diterima para atlet. Padahal, mereka adalah individu-individu yang telah membawa nama baik daerah melalui perjuangan dan prestasi di ajang olahraga nasional.
Keterlambatan pencairan bonus tersebut memunculkan pertanyaan yang semakin keras di kalangan masyarakat: mengapa hak atlet yang telah berjuang mengharumkan daerah justru berlarut-larut penyelesaiannya?
Tak hanya itu, publik juga mempertanyakan nasib bonus atlet yang berlaga pada ASEAN Para Games di Thailand. Hingga saat ini, belum ada kejelasan terbuka mengenai apakah bonus tersebut telah direalisasikan atau masih terhambat oleh persoalan administratif.
Situasi ini menimbulkan kesan bahwa penghargaan terhadap prestasi atlet disabilitas belum mendapatkan prioritas sebagaimana mestinya.
Di sisi lain, informasi mengenai audit Inspektorat terhadap NPC Riau terkait penggunaan dana hibah tahun 2025 semakin menambah lapisan pertanyaan. Audit memang merupakan mekanisme pengawasan yang wajar dalam tata kelola anggaran publik. Namun masyarakat tentu menunggu kejelasan: apakah pengelolaan dana tersebut berjalan sesuai aturan atau justru ditemukan persoalan yang lebih mendasar?
Lebih memprihatinkan lagi, beredar kabar bahwa pengurus dan atlet NPC Riau hingga kini belum menerima gaji. Jika informasi ini benar, maka kondisi tersebut menjadi ironi yang sulit diterima akal sehat.
Di satu sisi, atlet disabilitas diminta berlatih keras, berprestasi, dan membawa nama daerah di berbagai kejuaraan. Namun di sisi lain, hak dasar mereka justru diduga belum terpenuhi.
Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan administrasi anggaran, tetapi juga menyangkut komitmen pemerintah daerah dalam menjamin kesejahteraan atlet disabilitas.
Selain persoalan substansi, gaya komunikasi publik dari pihak Dinas Pemuda dan Olahraga juga ikut disorot. Di kalangan media dan masyarakat muncul persepsi bahwa pejabat terkait cenderung sulit ditemui ketika dimintai penjelasan mengenai isu-isu sensitif.
Dalam era keterbukaan informasi saat ini, sikap tersebut justru berpotensi menimbulkan spekulasi yang semakin luas di tengah masyarakat.
Padahal, transparansi dan komunikasi terbuka adalah fondasi utama dalam menjaga kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah.
Sikap PLT Gubernur Riau Dinantikan
Melihat rentetan persoalan tersebut, perhatian publik kini juga tertuju kepada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto. Sebagai pimpinan pemerintahan di daerah, sikap dan langkah yang akan diambil menjadi penting untuk memastikan polemik ini tidak berlarut-larut.
Pengamat pemerintahan menilai, pemerintah provinsi memiliki tanggung jawab moral dan administratif untuk memastikan pembinaan olahraga disabilitas berjalan transparan, profesional, dan berpihak pada kesejahteraan atlet.
Jika benar terdapat keterlambatan bonus maupun gaji atlet, maka pemerintah provinsi diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pengelolaan anggaran olahraga, termasuk menelusuri hambatan birokrasi yang menyebabkan hak atlet tertunda.
Selain itu, Plt Gubernur juga dinilai perlu meminta laporan resmi dari Dinas Pemuda dan Olahraga serta pihak terkait, guna memastikan bahwa proses pembinaan olahraga disabilitas tidak terganggu oleh persoalan administrasi maupun tata kelola anggaran.
Langkah tegas dan cepat dari pimpinan daerah dianggap penting untuk menjaga kepercayaan para atlet, pelatih, serta masyarakat terhadap komitmen pemerintah dalam memajukan olahraga inklusif.
Sebab bagi para atlet disabilitas, prestasi bukan sekadar medali.Ia adalah simbol perjuangan, keterbatasan yang dilampaui, dan kebanggaan daerah yang seharusnya dihargai dengan kepastian hak dan perhatian yang nyata dari pemerintah.
Kini publik menunggu: akankah pemerintah provinsi turun tangan secara langsung menyelesaikan persoalan ini?
Matajagad.com menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu ini demi memastikan bahwa hak-hak atlet disabilitas tidak terabaikan di tengah birokrasi yang lamban dan minim transparansi.
(Redaksi Matajagad.com)

















