Padang, Matajagad.com – Budaya Alam Minangkabau (BAM) adalah muatan lokal yang pernah menjadi ciri khas pendidikan di Sumatera Barat. Melalui BAM, generasi muda diperkenalkan pada filosofi hidup orang Minang yang terkenal dengan prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Nilabasandi tersebut tidak hanya mengajarkan etika dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga membentuk identitas, karakter, serta rasa kebersamaan di tengah masyarakat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, literasi terhadap BAM di sekolah-sekolah semakin berkurang. Banyak siswa mulai asing dengan pepatah petitih, sistem kekerabatan, hingga sejarah sosial Minangkabau.
Fenomena ini tentu memunculkan kekhawatiran. Jika anak-anak Minang tidak lagi mengenal warisan budayanya, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang kehilangan akar identitas. Kondisi ini semakin diperparah oleh derasnya arus globalisasi dan modernisasi yang seringkali membuat anak-anak lebih mengenal budaya luar ketimbang tradisi sendiri. Padahal, BAM bukan hanya tentang pengetahuan adat, tetapi juga pedoman hidup yang menuntun seseorang untuk berperilaku santun, menghargai orang lain, serta mampu hidup dalam masyarakat yang penuh dengan nilai kebersamaan.
Menurut Syarifah, salah seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sumatera Barat, menurunnya literasi BAM di sekolah merupakan persoalan serius yang harus segera dijawab. “HMI memandang bahwa pendidikan berbasis budaya tidak boleh dianggap pelajaran sampingan. BAM adalah fondasi moral yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bermasyarakat generasi Minangkabau. Jika ini hilang, maka generasi mendatang akan semakin rapuh dalam menghadapi tantangan zaman,” tegasnya.
HMI, sebagai organisasi kaderisasi mahasiswa, memiliki tanggung jawab moral untuk berperan aktif dalam menjawab tantangan ini. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui kajian budaya, advokasi kebijakan pendidikan, maupun kerja sama strategis dengan pemerintah daerah serta lembaga pendidikan. HMI juga dapat menjadi motor penggerak dalam menciptakan inovasi pembelajaran BAM yang lebih menarik, interaktif, dan sesuai dengan perkembangan zaman. Misalnya, penggunaan media digital, film pendek, hingga forum diskusi budaya yang melibatkan langsung anak-anak muda.
Urgensi penguatan kembali BAM sejatinya bukan hanya soal menjaga tradisi, tetapi juga membangun karakter bangsa. Generasi yang memahami dan mencintai budayanya akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berkarakter kuat, dan memiliki kemampuan untuk menyaring pengaruh global tanpa kehilangan jati diri. Oleh karena itu, pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan Sumatera Barat perlu merumuskan kebijakan yang lebih serius untuk menjadikan BAM bukan sekadar formalitas, melainkan bagian integral dalam pembentukan karakter siswa.
Selain itu, keluarga dan masyarakat juga memiliki peran besar. Pendidikan budaya tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Anak-anak harus diperkenalkan dengan adat Minangkabau sejak dini, baik melalui cerita, kegiatan adat, maupun keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan sinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan organisasi kepemudaan seperti HMI, maka BAM dapat kembali hidup dan memberi warna bagi generasi muda Minangkabau.
Pada akhirnya, tantangan terbesar pendidikan kita hari ini bukan hanya soal teknologi dan globalisasi, tetapi juga menjaga agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya. BAM adalah warisan berharga yang harus terus dijaga dan ditransmisikan. HMI dengan segala kapasitas dan komitmennya siap menjawab persoalan ini, agar anak-anak Minang tetap tumbuh sebagai generasi yang cerdas, berkarakter, serta setia pada nilai-nilai luhur budaya Minangkabau.***(MO/MJ)

















