Rohil, ||Matajagad.com – 23/12/2025
Selasa (23/12/2025) dini hari, kegelapan di Sumur Serun – 22, Pematang Ibul, Rokan Hilir, kembali menyaksikan kejadian yang tak terduga. Seorang pekerja inisial M (44) dari PT Indrillco Bakti (IDB) – mitra PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) – tewas tertimpa lubricator yang jatuh saat aktivitas laydown swab tool. Peristiwa ini bukanlah pertama. Hanya sebulan yang lalu, pada 24 November 2025, Anggiat Sianturi (43) dari PT Arthindo Utama juga gugur tertimpa menara rig di Sumur 4P-84B, Bengkalis, dengan dua rekannya mengalami cacat permanen. Kasus Anggiat bahkan belum menemukan penyelesaian hukum yang jelas.
Keterangan tertulis Corporate Secretary PHR, Eviyanti Rofraida, mengkonfirmasi insiden terbaru, menyampaikan duka cita dan menekankan bahwa penyebab masih dalam penyelidikan. Aktivitas IDB di lokasi telah dihentikan “untuk memastikan keamanan dan keselamatan” – sebuah kalimat yang seolah mulai membosankan ketika rentetan kematian terus berlanjut.
Sejak PHR mengambil alih pengelolaan Blok Rokan pada 9 Agustus 2021 (setelah masa konsesi Chevron berakhir), data SabangMerauke News mencatat setidaknya 13 kecelakaan kerja yang merenggut nyawa dan satu kasus non-kerja (dua bocah yang tenggelam di kolam limbah tak diawasi) – total 14 insiden mematikan. Korban sebagian besar adalah pekerja kontraktor, yang seolah menjadi lapisan pertama yang menanggung beban dari kerentanan sistem keselamatan yang tampaknya lemah.
Di balik ambisi meningkatkan produksi Blok Rokan – yang pernah meraih 1 juta barel per hari pada era 80-an – tersembunyi ironi yang menyakitkan: tak ada satu pun petinggi perusahaan (baik PHR maupun mitra) yang pernah dikenai jerat hukum serius.
Jika ada tindakan hukum, hanya pekerja lapangan yang menjadi sasaran dengan pidana yang ringan. Ini bukan sekadar masalah kesalahan teknis, melainkan pertanyaan tentang kesetiaan terhadap prinsip-prinsip ketenagakerjaan dan martabat manusia.
Apakah upaya “keselamatan sebagai prioritas utama” yang diungkapkan PHR hanyalah sekadar frasa (public relations), atau akan ada langkah nyata yang mengubah wajah Blok Rokan dari lapangan maut menjadi tempat kerja yang aman? Waktu terus berjalan, dan setiap hari yang lewat tanpa koreksi berarti risiko bagi ribuan pekerja yang setiap hari mempertaruhkan nyawa untuk industri migas negara. (MO/MJ)

















