Sawahlunto, Sumbar – Matajagad.com
Maraknya Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) menggunakan puluhan escavator dan beroperasi di berbagai titik lokasi di wilayah Swalunto kota, sumatera barat, Setelah terbit di beberapa media online dan viral dibeberapa pemilik akun TikTok, hingga selesa 11/11/2025 belum diketahui tindakan nyata oleh pihak berwenang.

Aktivitas ilegal itu berlangsung secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) di berbagai titik lokasi seperti kawasan Talawi, Muara Kalaban, dan beberapa titik lokasi lainnya hingga di aliran sungai di wilayah kota tambang tua.
Aktivitas PETI tersebut beroperasi siang malam dan sedikitnya 60 unit alat berat jenis excavator dengan bebas beroperasi, dan mengobrak-abrik bantaran sungai. Ironisnya, kegiatan itu berlangsung Terang-terangan.
Selain dari berbagai narasumber yang menyebut dugaan keterlibatan oknum Aparat penegak hukum, kemudian tanpa ragu-ragu salah seorang tokoh publik berinisial DS dengan secara tegas membeberkan di sebuah WhatsApp Grup nasional adanya dugaan keterlibatan oknum TNI.
“Mohon ini dimuat, diduga di backup oleh oknum anggota TNI AD dari KOREM 032/WBR, inisial M dan D., ujar tegasnya inisial DS
Aktivitas PETI adalah bukan sekadar pelanggaran hukum, ini bentuk pengkhianatan terhadap negara dan rakyat,” ujar warga yang menolak kegiatan tambang tersebut

Kerusakan Lingkungan Dibiarkan dan Intimidasi Terhadap warga yang sempat memfiralkan sejumlah video tambang emas ilegal itu ke akun TikTok miliknya
Kerusakan lingkungan akibat PETI di Sawahlunto kini masuk tahap darurat ekologi. Sungai-sungai tercemar, kawasan hutan lindung rusak parah, dan lahan warga berubah menjadi kubangan lumpur beracun. Namun, aparatur negara seolah menutup mata.
“Ketika warga mencoba mengungkap kebenaran, intimidasi dan tekanan justru datang dari aparat”
“Kemarin saya bikin video di TikTok tentang aktivitas PETI, besoknya saya langsung didatangi aparat kepolisian dari Polsek setempat termasuk oknum Kanit Reskrim dan diminta untuk menghapusnya,”
“ungkap seorang warga pemilik yang sempat mendokumentasikan kegiatan tersebut dan setelah diviralkan ke akun TikTok miliknya”

Bukan Sekadar Tambang Rakyat, Tapi Operasi Industri Ilegal :
Dari hasil investigasi lapangan, aktivitas ini jauh dari sekadar tambang rakyat. Para pelaku bahkan menggunakan mesin pemecah batu berkapasitas besar dan bahan kimia berbahaya untuk mengekstraksi emas.
“Itu bukan tambang rakyat, itu industri ilegal. Mereka pakai mesin pemecah batu, hasilnya diolah dengan bahan kimia untuk memisahkan emas,” sambunya sumber sambil memperlihatkan dokumentasi foto dan video alat berat dan aktivitas di lokasi.
Sejumlah titik yang terpantau dan yang sempat didokumentasikan, antara lain :
Nagari Kajai – dari simpang Santur arah Sawahlunto, Silungkang sekitar Jembatan Merah,
Lubuk Ciling, hingga kawasan dekat jembatan utama Lintas Sumatra yang berjarak hanya puluhan meter dari pemukiman warga.
Bahkan, khusus di lokasi Jembatan Merah Silungkang, terlihat empat unit excavator aktif beroperasi : tiga bermerk Sany dan satu CAT.
Mafia Tambang Mengatasnamakan Rakyat
Para pelaku kerap berlindung di balik narasi “tambang rakyat” untuk mengelabui penegak hukum. Namun faktanya, keuntungan besar justru mengalir ke kantong para pemodal, dan para oknum yang tangan tidak terlihat. sementara masyarakat kecil hanya dijadikan tumbal kerakusan dan kekuasaan tertentu.
“Yang di bawah hanya buruh. Uang besar diambil pemodal dan oknum yang membekingi,” tutur salah seorang warga yang menyaksikan aktivitas itu setiap hari.
Negara tidak boleh tunduk kepada mafia tambang ilegal :
Kejahatan lingkungan di Sumatera Barat kini memasuki fase paling berbahaya. Bukan hanya soal rusaknya alam, tetapi juga runtuhnya moral aparat penegak hukum dan hancurnya kepercayaan publik terhadap negara.
Sawahlunto, kota yang pernah berjaya karena tambang batu bara, kini berubah menjadi simbol kegagalan hukum dan pengkhianatan terhadap amanah konstitusi.
Jika praktik PETI ini terus dibiarkan, maka yang lahir bukan hanya generasi miskin sumber daya, tetapi juga generasi tanpa keadilan.
“Pemerintah pusat dan Mabes TNI–Polri harus turun langsung menindak jaringan mafia PETI di Sawahlunto”
Lakukan audit menyeluruh terhadap keterlibatan oknum aparat di lapangan.
Pulihkan ekosistem yang telah rusak dan berikan perlindungan hukum bagi jurnalis dan warga yang melaporkan kejahatan lingkungan.
Praktik penambangan tanpa izin :
Negara tidak boleh kalah oleh mafia tambang. Sawahlunto harus diselamatkan sebelum benar-benar tenggelam dalam lumpur kejahatan. (MO/MJ)
Penulis : AH

















